Berubah atau Tidak

Tidak sulit untuk berubah, kadang kita hanya memilih opsi untuk menunda. Banyak hal yang sebenarnya kita niatkan untuk dilakukan dalam kehidupan, akan tetapi kita nyaman dengan keadaan yang ada sehingga kita tetap menunda dan akhirnya tidak ada aksi nyata.

Begitu mudah sebenarnya melakukan kebiasan baru, hanya saja selain menunda kita sering merasa terlalu sibuk dengan kegiatan yang ada sehingga kita tidak mau capek dengan aktifitas baru. Pekerjaan yang ada saja sudah membuat kita terlalu capek dan bahkan stres dengan semua itu. Apalagi bagi orang-orang yang tinggal di kota besar, yang setiap harinya harus dihadapkan dengan beban pekerjaan yang membuat mereka stres ditambah lagi dengan kondisi jalanan saat mereka akan pulang dari kerja yang sangat padat dan itu sangat melelahkan badan dan pikiran.

Memulai hari dipagi yang sangat melelahkan, disaat langit masih gelap sudah berangkat bekerja agar tidak terlambat, sehingga sampai di tempat bekerja dengan semua pekerjaan yang ada membuat orang sudah sangat capek dengan semua itu. Tidak mungkin lagi rasanya bagi mereka untuk melakukan hal lain diluar semua itu.

Betapa sulitnya untuk membagi waktu bagaimana mungkin untuk melakukan hal baru, untuk berangkat saja harus dimulai dari langit gelap dan waktu pulang sudah sangat sore bahkan tak jarang harus sampai di rumah pada waktu sudah gelap kembali, karena mungkin macet di jalan atau ada deadline pekerjaan yang harus dilakukan saat dijam pulang.

Sangat penting bagi orang-orang yang menjalani hidup seperti itu dengan manajemen waktu yang baik dan menyeimbangkan diri dengan hal-hal positif agar dapat membuat diri untuk bisa merilis stres dan lelah yang ada. Melakukan perubahan atau membuat suatu kebiasaan baru sangat relevan untuk dapat menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan.

Waktu yang terbatas mungkin saja membuat orang-orang yang menjalani kehidupan seperti itu kesulitan dapat melakukan penyeimbangan diri. Tapi hal tersebut bukan tidak mungkin dilaksanakan tinggal bagaimana caranya agar dapat mengatur hal tersebut.

Bergerak ke luar kota saat akhir pekan merupakan salah satu cara mereka terkadang untuk menyenangkan diri untuk memicu kebahagiaan pelepas stres dari pekerjaan, akan tetapi hal tersebut tidak sepenuhnya berhasil karena dijalanan dihadapkan kembali dengan jalanan yang penuh dengan kendaraan lain yang membuat macetnya perjalanan. Sehingga saat selesai dari berlibur akhir pekan diakhiri dengan umpatan, “Yah, besok sudah hari Senin lagi”.

Mengubah kebiasaan baru yang relatif lebih mudah dan bebas biaya sebetulnya bisa dilakukan dengan setidak-tidaknya berjalan untuk berolahraga di taman yang dekat dari rumah bisa lebih bermakna, asal jangan menjadikan olahraga hanya sebagai ajang validasi dan ikut-ikutan saja, sesampainya ditaman hanya sekedar ambil potret sana sini. Tidak ada yang salah dengan itu, jika dilakukan dengan tidak terlalu berlebihan sehingga mungkin saja menggangu pengunjung taman lain yang mungkin sedang berolahraga.

Melakukan kebiasaan olahraga bisa membuat badan kita tetap bugar sehingga dapat dengan senang menyambut hari Senin dan siap dengan segala yang akan dikerjakan kembali. Kehidupan yang berjalan setiap hari mungkin sangat mebosankan karena dilakukan berulang, melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki membuat kita dapat menyeimbangkan diri antara bekerja dan kehidupan sehari-hari.

Jadi, berubah itu tidak sulit hanya saja kita yang selalu ingin menunda. Sehingga tidak ada aksi dari kita untuk melakukan hal-hal baru bahkan hal yang sederhana seperti jalan kaki. Sering sekali kita baca mungkin atau kita dengar melalui media-media baik itu media sosial ataupun media televisi bahwa ternyata warga negara kita merupakan orang yang sangat malas untuk jalan kaki sehingga dari hasil penelitian itu menempatkan kita langkah kaki paling rendah dari warga negara-negara tetangga kita.

Bagaimana tidak, kita selalu memanjakan diri dengan fasilitas kendaraan yang ada seperti halnya sepeda motor bahkan sekarang ada lagi yang menggunakan sepeda listrik, yang mana sebaiknya sepeda dijalankan dengan tenaga kita sendiri dengan cara digowes malah dijalankan dengan tenaga mesin yang digerakkan oleh baterai. Ini bahkan dilakukan dengan jarak yang relatif dekat walau hanya membeli sesuatu ke warung atau mini market.

Tidak hanya sepeda motor dan sepeda listrik, dengan kehidupan di kota banyak sekali angkutan kota yang tersedia berupa mobil, dengan jarak yang hanya satu pemberhentian saja yang lebih kurang hanya satu kilometer orang-orang cenderung memilih untuk menunggu jadwal kendaraan itu lewat dan menaikinya daripada melakukan jalan kaki.

Hal seperti ini sudah lumrah terjadi dan menjadi budaya sehari-hari. Sehingga sulit bagi mereka-mereka yang tidak mau berubah untuk melakukan perubahan itu. Seolah berubah membuat orang-orang terlihat terlalu bodoh karena melewatkan semua fasilitas yang ada. Padahal jika kita sejenak melihat melalui media yang ada bagaimana kebiasaan berjalan kaki sudah menjadi budaya sehari-hari di Negara-negara maju, hal ini tentunya banyak faktor yang mendukung untuk itu. Karena suhu di negara tersebut yang membuat mereka harus bergerak sementara di negara kita yang tropis ini membuat kita enggan berkeringat karena harus beraktifitas seharian.

Alasan tersebut sebetulnya tidak relevan, karena negara tetangga kita juga merupakan negara yang beriklim tropis, kenapa mereka lebih banyak juga dalam memenuhi langkah kaki harian. Semua hanya bisa dilakukan dengan mendobrak kebiasaan. Tidak menikmati fasilitas yang ada bukan suatu langkah mundur. Akan tetapi ada juga saatnya untuk kita peduli segala sesuatu harus dilakukan untuk dampak hidup yang lebih baik lagi.

Merubah kebiasaan itu tidak sulit, kembali kepada kita apakah kita mau untuk itu. Bukan hanya soal sibuk atau tidak sibuk, atau tidak ada waktu untuk melakukan itu. Semua adalah soal mau atau tidak, mulai atau tidak.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top