
Entah kenapa setelah menikah, perut sebagian laki-laki menjadi maju ke depan dan ke samping. Awalnya ini tidak menjadi perhatian dan tidak pernah saya coba cari tahu apa sebabnya sebelumnya, karena memang dalam pikiran saya ketika itu, sudah menjadi hal yang biasa dan memang seharusnya begitu.
Ada juga yang menyebutkan bahwa itu pertanda sudah ada yang mengurusi keperluan kita. Bisa juga dikatakan demikian, karena memang dari pengalaman saya sendiri saya merasakan bahwa ketika sudah menikah makanan sehari-hari sudah ada di rumah karena ada istri yang selalu memasak. Sedangkan dulu ketika masih bujang untuk makan saja saya harus berjalan kaki dulu mencari warung tempat makan, sehingga penggunaan energi dalam tubuh saya yang diperoleh dari makanan benar-benar terpakai karena harus berjalan saat pergi ke warung dan kembali dari warung.
Sekarang saya jadi sadar, bahwa ternyata sangat berpengaruh sekali aktifitas fisik dalam kehidupan kita sehari-hari, apalagi bagi kita yang makan dengan porsi yang sama sebanyak sehari tiga kali dengan karbohidrat berupa nasi setiap harinya. Tidak hanya makan makanan berat dengan nasi dan lauk pauknya, ditambah lagi dengan camilan yang berupa gorengan atau camilan manis menambah kembali jumlah makanan yang dimasukkan ke dalam tubuh, jadi wajar saja ketika tubuh tidak butuhkan lagi semua makanan yang masuk itu sehingga membuatnya mencarikan tempat untuk menyimpan makanan yang sudah masuk terlalu banyak.
Gorengan merupakan camilan yang sangat enak, bahkan sampai saat ini saya masih sangat menyukainya, apalagi bakwan yang dimakan dengan cabe rawit atau saos sambal terasa sangat nikmat. Untuk mengontrol itu butuh perjuangan yang besar, agar tidak terlalu banyak serta bijak dalam memakannya dengan jumlah yang sedikit selalu saya upayakan.
Makan yang lahap dan banyak adalah cara untuk dibilang sehat atau untuk mencapai sehat bagi sebagian orang, sehingga ketika badan terlihat berisi dengan lemak menjadi faktor bahwa sedang tercapainya suatu kemakmuran setelah berumah tangga bagi seorang bapak-bapak, terkadang juga ada candaan seperti pernyataan “susu”nya cocok, dan hal ini mendapat apresiasi seolah menjadi sesuatu yang wow dari teman-teman melihat perubahan pada tubuh yang mulai melar.
Makanan memang menjadi sumber energi bagi tubuh kita, tidak adanya kontrol jumlah sesuai kebutuhan harian membuat tubuh menjadi menyimpan banyak sekali lemak. Padahal apa yang kita makan adalah sumber energi, tetapi karena kebanyakan jumlah yang masuk dibanding yang keluar malah membuatnya memberatkan diri kita sendiri dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari. Contoh sederhana saja dengan penumpukan lemak pada tubuh yang banyak membuat kita kesulitan bahkan hanya untuk mengenakan sepatu karena gerak terhalang oleh perut.
Setelah sedikit saya pelajari, ternyata betapa canggihnya Tuhan telah menciptakan tubuh kita sebagai manusia, begitu hebatnya tubuh kita mengolah apapun yang kita konsumsi sehari-hari. Itu semua butuh kesadaran bagi kita sebagai pemilik tubuh agar mengetahui bahwa sebagai makhluk, tubuh yang sedemikian canggihnya juga ada batasannya. Pola dan jumlah makanan yang tidak seimbang dengan kebutuhan harian kita yang tidak banyak aktifitas fisik, seharusnya tidak perlu memasukkan terlalu banyak makanan dan camilan lagi. Karena, ketika tubuh sudah mulai menumpuk banyak lemak, merupakan warning bahwa itu sudah berlebihan, pada saat itu kita diminta untuk meningkatkan aktifitas gerak dan mengurangi yang dimasukkan agar seimbang antara masuk dan keluarnya.
Self reward, self love dan makan saja yang penting sehat atau makan saja yang banyak selagi masih muda adalah kata-kata yang tidak bijak untuk menjadi pegangan. Kata-kata seperti itu hanya menjadikan kita tidak mau belajar menghargai tubuh yang mungkin saja sudah terlalu lelah untuk memproses makanan yang masuk sedangkan makanan itu tidak betul-betul menjadi terpakai dalam aktifitas kita.
Kesadaran untuk memilih antara hidup untuk makan dan makan untuk hidup adalah suatu pelajaran penting. Artinya apakah kita hidup hanya untuk kepuasan sendiri tanpa sadar batas dengan cara makan sepuasnya tanpa kontrol diri atau kita makan sesuai porsi kebutuhan aktifitas sehari-hari. Menumpuknya terlalu banyak lemak pada tubuh bukanlah suatu yang harus kita amini begitu saja, justru ini merupakan pengingat bahwa kita harus pelajari kenapa ini terjadi dan harus ditangani.
Nabi Muhammad mengajarkan berpuasa pada hari senin dan kamis, bisa saja hal ini bukan hanya sekedar bentuk ketaatan dan penghambaan diri, tetapi juga seharusnya ini menjadi pelajaran penting bagi kita untuk mengetahui batasan diri. Bukan hanya sekedar makan, halal dan baiknya menjadi keharusan sebagai pegangan. Berpuasa dan makan makanan yang baik sudah terbukti secara ilmu pengetahuan berdampak baik bagi tubuh, hari ini kita sudah sangat dimudahkan untuk belajar bagaimana seharusnya kita makan.
Seringkali makanan juga dituduh menjadi penyebab suatu penyakit, padahal cara pengolahan dan jumlah yang dimakan tidak pernah menjadi perhatian. Kita harus sadari makanan (real food) itu baik selama tidak berlebihan, pengetahuan ini sangat mudah kita peroleh hari ini tetapi terkadang tidak menjadi perhatian, padahal ini seharusnya menjadi pengetahuan dasar bagi kita sebagai makhluk yang membutuhkan makan sebagai sumber energi.
Perut yang membuncit mengajarkan saya tentang pentingnya mengatur pola dan jadwal makan bukan menjadikan ini sebagai tanda kebahagiaan atau kemakmuran. Sehingga saya belajar dan berusaha untuk lebih bijak lagi dalam hal makan dan makanan.
